Minggu, 28 Desember 2014

CERPEN : ini cerpenku, mana cerpenmu?



Siapa Kau? Ini Tanah Liatku!
Karya : Hafidhotul Ilmillah Parera

“Gaaaaaambar-gambar! Gaaaambar-gambar!” celetukku seperti orang penjajah Koran. “Wakakakakaka… kamu kenapa le?” kata Fani teman sebangkuku. “Kabar gembira untuk kita semua! Seni Budaya, tugasnya menggambar semua! Buku gambar, sehatkan mata kita, jad…” belum selesai, teman teman sudah tertawa terbahak-bahak mendengar lirik lago “Mastin” yang kuubah itu. Aku sangat malu apalagi ketika Guru pengajar SBK mendengarkan lagu itu di dekat pintu.
“Yaaaa Assalamualaikum Wr. Wb.” Pak Setyo menyapa murid-muridnya. “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh.” Jawab kami. “Qu’uudan” pinta ketua kelas menyuruh kami duduk. “kelas 9A, coba dibuka buku SBKnya halaman 192!” belum selesai mencari halaman itu, aku mendengar teman-temanku berbisik-bisik tanda ingin protes. “Hey Fan, ada apa tuh? Kenapa mereka bisik-bisik kek gitu?” sontak Fani menunjukkan wajahnya yang tanpa ekspresi itu. “Lihat noh! (sambil menunjukkan buku SBK halaman 192 yang kucari-cari itu)” “WWHHHAAAAATT…..?” mata dan mulutku menunjukkan tanda tak percaya. Buku halaman 192 itu berisi materi patung, bukan menggambar. Aku merasa bersalah karena sok tahu. Mencoba meminta maaf, aku menengok ke arah teman-teman, daaaann…. “SSSTTT…man teman… peaaaceee.” Aku menunjukkan tanda perdamaian dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf ‘V’ itu. Aku bisa membaca perasaan mereka yang belum setengah menit menbentuk kelompok paduan suara. “Hooooo…. Dasar!” teriak mereka. Pak Setyo yang sibuk mencatatkan materi di papan ikut kaget. “Hey Hey Hey ada apa toh?” “itu pak Fidho, katanya hari ini mau menggambar, ternyata patung!” protes Hesty. “Sudah sudah, silahkan dilanjutkan membaca, nanti bapak jelaskan!” tenang Pak Setyo. “Huuft… untung Pak Setyo.” Kataku. Fani pun menoleh ke arahku yang ngedumel gak jelas itu.
Pak Setyo menerangkan panjang lebar tentang patung. Aku mulai menahan tawa ketika mulut Pak Setyo yang komat kamit diiringi dengan goyangan kumisnya yang lebat itu. Tanpa aba-aba, Fani (mungkin jengkel) lengsung menepuk punggungku. “issshh ape lah kau nii… asik akuu juga!” Logatku yang mirip Upin-Ipin itu. “Lagian ngapain kamu cekikikan kek gitu? Emang ada yang lucu? Guru lagi nerangin materi malah ketawa!!!” Fani, Fani, protes terus dari tadi. “Yeee… terserah aku dong, week.” Kataku sambil menjulurkan lidah.
~kriiiiiingg~ bel istirahat berbunyi. “Anak-anak, Assalamualaikum, ohya, PRnya kalian silahkan membuat patung sekreatif mungkin. Dari tanah liat ya! Dikumpulkan hari Jum’at!” pamit Pak Setyo. “Iya pak.” Jawab Fani. Aku yang baru saja membereskan bukuku, lansung terduduk di lantai. “Faaaaaannnniiiiiiiiiiii……” teriakku. Melihat keadaanku, teman-teman langsung mengerubungiku tanpa terkecuali Fani. “What The Hell Fidd?” jawabnya dengan santai. “What The Hell, What The Hell! Ngapain kanu iya-in aja kata Pak Setyo? Hah? Eh sekarang hari apa cobak? Ini hari Rabu Faaaannn…. Besok lusa tuh patung harus dikumpulin. Emang lu kata Jum’at tuh lama? Lusa Fan, lusaaaa! Aduh Faaaniiiiiiiii lo tuh…” “udah diem lo! (membungkam mulutku)” sergap Fani karena aku yang nyrocos terus.
“kito mo komono Fon?” tanyaku sambil memukul tangan Fani yang membungkam mulutku. “ke kantin, lapar.” Jawabnya sambil mulai membuka bungkamannya. “Haaddduuuuuhhh lega deh. Udah ah aku gak mau tau, kamu pokoknya harus kerja keras buat proyek ini!” “iya iya… ntar dipikirin.”
Fani yang sudah kenyang meutuskan untuk kembalike kelas. “Cari kelompok yuk! Eh itu ada Rosi, Minah, sama Billy. Ajak mereka aja ya?” ajak Fani. “Terserah” jawabku ketus. “Eh Ros mau sekelompok sama kita ggak? Kalian juga Minah, Billy?” Tanya Fani. “idiiiiiihh… gak mau ah, males kalau harus sekelompok sama lu berdua! Ajak aja tuh si Billy barangkali mau.” Rosi dan Minah pergi begitu saja. “Dasar sombong!” kataku. “Apa lu kata?” Tanya Rosi. “Hehehe… nggak kok, aku lagi haus makanya ngomong ngawur.” Aku berbohong. Wakakaka… aku tertawa! “udah udah, eh iya Bil, mau gak sekelompok sama kita?” “emmm… iya deh gakpapa. Aku ajak Malah sama Tifa ya?” jawab Billy. “OK!” Aku dan Fani serempak.
Kami semua setuju untukjadi satu kelompok. Fani, Tifa, Billy, Malah, dan tentunya aku ikut dalam kelompok ini. “Hey, nanti ya aku tunggu di rumahku… see you guys!” aku memberikan kesepakatan kepada mereka.
Kesepakatan kami akhirnya membawa ami untuk membangun proyek yang menyebalkan ini. Berjalan menyusuri kampung, kemudian menuju hamparan tanah berpadi yang hijau itu. Udara sejuk, andin sepoi-sepoi seolah mempersilahkan kami untuk berjalan lebih jauh ke dalam. Kicauan burung yang menurutku membentuk alunan lagu I’m Yours nilik Json Mars semakin member semangat pada kami. “Banyak bunga-bungaa.. *eh salah banyak paaadi paaadiii… banyak padi padiii…” sanjungku. Kemudian dilanjutkan oleh Fani dan Tifa. “I FEEELL FREEE…” “Wkwkwkwkwkwk” kami semua terbahak bahak mendengar kata kata si Jambul Katulistiwa itu.
“Eh ada yuyu, ada yuyu! Sini-sini!” teriak Malah. “Haaahh mana mana? Manaaaaa?” aku sangat heboh saat itu. Hingga gundukan tanah kecil (galengan) sebagai jalan-jalan diantara sawah-sawah itu terasa luas di kakiku. “adduuuuh kamu ini gimana sih? Untung aku gak jatuh!” gerutu Tifa. “iya kamu masih belum jatuh, lah aku sama Billy? Udah jatuh nih! Dasar Fidho aneh!” Fani mulai jengah. “IYYAAAAA MAAAF!” Teriakku dari kejauhan. “Wuuuihh besar amat. Ayo ambil ayo ambil!” tanpa basa-basi, aku terjun ke tanah berlumpur dan mencoba mengambil yuyu itu. “Yak yak yak yaaaaakk~ ADDUUUUHH EMAAAAKKK….!” Tanganku terkena cupitan yuyu. Batapa sakitnyaaa~ betapa perihnyaaa tangankuuu~ “hahahahahahaha…” tampak jelas di wajah mereka ada rasa balas dendam kepadaku. “Ngapain ketawa? GAK LUCU!” kini giliran aku yang jengkel. “Wakakakakaka.. salah sendiri! Siapa suruh cari yuyu? Yang kita cari tuh tanah lia! Bukan yuyu!” ejek Fani. “Iya kamu ngapain disitu? (menolongku)” Tanya Billy. “Cari yuyu lah masak cari pisang!” jawabku ketus tanpa rasa ingin mengucapkan terima kasih pasa Billy.
“Udah ah, ayo cari, nanti keburu sore.” Billy yang baik hati itu mulai mencairkan suasana. Perjalanan pun dimulai lagi. Kami mulai menyusuri sawah demi mencari tanah liat itu. Tiba-tiba kami bertemu kelompoknya Rosi yang arogan itu. “cieee ngikut ngikut cieee… dasar! Emang gak bisa ya kalo gak ngikutin? juiihh” Rosi selaku ketua kelompok menyebut kami sebagai pengikut. Apalagi ketika salah seorang dari mereka mengeek kami sebagai mata-mata. Aku pun naik pitam. “eh, siapa lu? emang ini sawah milik kalian doang? Lu tuh yang ngikut-ngikut!” mereka yang merasa terpojok, segera meninggalkan kami. Setelah berjalan cukup jauh, Alhamdulillah ketemu. Yaaa walaupun dekat kandang kuda. “Lah ini ada, yuk gali! Mana kreseknya?” Tanya Malah. “ini. Tapi minta izin dulu sama yang punya kandang barangkali ini milik dia.” Ajakku. “tumben bener!” gertak Fani. “Emang gue pikirin?” balasku sambil menjulurkan lidah. “Pak Paaak boleh minta tanahliat nya?” tanta Billy dari luar kandang tanpa ingin tahu apa dan siapa yang ada di dalam kandang. “iyyaaa boleh.” Jawab seorang laki-laki dari dalam kandang dengan suara yang menurutku ngeri. Sertelah mendapat satu kresek tanah liat, kami merasakan hal aneh. Saat ingin berpamita pulang, bapak yang kami Tanya tadi tiba-tiba tidak ada dimana-mana. “Hey hey hey, ngomong-ngomong bapak tadi mana? Kudanya kok hilang?” malah bertanya dan menakuti kami. “coba kulihat kedalam.” Keberanian Fani memuncak. Seketika keluar dari kandang, wajah Fani tampak pucat pasi. Yang dia katakan hanyalah “LAAARRIIII….” “Heeeeeiiii tunggu aku, heeeeiiii jangan lariiiii.” Aku yang saat itu masih berada di lubang galian kesulitan naik. Ketika aku sudah naik, aku lari terbirit-birit dengan menenteng sekantong tanah liat yang perlahan-lahan jatuh ke tanah.
Kami bertemu di bawah pohon jamblang. “woooooyyy kenapa kalian ninggalin aku? Kalian jahat!” aku berdecak. “sorry, kita tadi ketakutan, soalnya tadi itu rumahnya nenek gerandong yang diceritain orang-orang.” Jelas Fani. “hah serius? Tapi gak ninggalin aku kek gitu juga kaliiiii…” jawabku. Karena lelah, kami duduk sebentar di bawah pohon. “loh kok tanah liat nya tinggal separuh kresek?” billy yang teliti itu lagi-lagi membuatku semakin terpojok. “iya, kemana Fid yang lain?” Malah menimpal. “pingin tau? Nih lihat bagian bawahnya!” jawabku. “lahkok sobek? Gimana sih, kan kita udah susah-susah cari!” Tifa mulai jengkel. “Yeeee orang yang cari aku, yang ditinggalin aku, yang bawa juga aku! Jadi terserah aku dan kreseknya dong!” aku mencoba mengeles. Tifa, Fani, Billy, dan Malah akhirnya mengaku salah dan minta maaf.
Setelah istirahat, ternyata ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’ kami yag tadi tidak sengaja beristirahat di bawah pohon, ternyata disamping bawah pohon itu ada tanah liat yang sangat luas. Kami berdecak kagum dan saling memuji diri sendiri. Semuanya terjun ke bawah untuk menggali tanah liat. “gilakk ini tanah litany banyak banget… ayo gali gali gali gali…” ajak Malah dan semua mengikuti.
Ketika sedang sibuk mengantongi tanah liat, kelompok singa (julukanku) itu datang lagi. “eh kalian tuh ngapain sih, tiap kita lewat ada kalian, tiap kita nemu lahan tanah liat ada kalian, jangan-jangan kalian setan lagi! Hahahahahaha.” Zola, sang asisten Rosi menyebut kami setan. Dasar mulut tipis. “Eh sorry ya, kalo kita setan, lu itu nerakanya tau gak? Panas banget kalo deket kalian. Bisa pergi gak? Apa perlu aku siram air comberan biar adem, hah?” aku merasa kaget dengan Tifa yang bisa marah seperti itu. Biasanya Tifa itu jarang marah. “whhaaatt neraka?” Rosi mulai gerah. “eh kita juga butuh tanah liat, bukan hanya lu pada doang!” Cindy membentak dan mulai turun ke tanah liat diikuti kelompoknya. Di situ kelompokku dan kelompok Rosi mulai berdebat, saling adu mulut dan lempar lemparan tanah liat. Kami pun jengah dan jerah sendiri terhadap apa yang kami lakukan. Tindakan itu sangat konyol dan kekanak-kanakan. Apalagi setelah melihat begitu banyaknya tanah liat yang terbuang percuma akibat ulah kami. Kelompokku tetap mempertahankan lahan tanah liat ini sementara kelompoknya Rosi meninggalkan kami dengan pakaian yang lusuh dan tangan hampa. Berulang ulang kami memunguti tanah liat yang terbuang itu. Kami sangat marah. “duh syukur mereka udah pergi. Dasar pngacau semua. Yuk semangat 45 booosss….!!!!!!” Ajak Billy yang terlihat sangat kelelahan itu. Yap. Sedikit demi sedikit tanah liat itu terkumpul kembali. Dua kresek tanah liat telah kami dapatkan di akhir sore.
“akhirnyaaa, udah yuk naik!” kata Tifa. Berbondong-nondong kami naik dan kembali beristirahat di bawah pohon jamblang tadi. Aku curiga ketika banyak biji jamblang berhamburan di tanah, saat aku tengok ke atas, ternyataaaaa “te-te-teman-teman!” bicaraku mulai gagap. “apa sih Fid?” temen-temenku menjawab. “li-li-lihat di ataaaaaaasssss” aku yang ketakutan langsung lari terbirit birit karena melihat nenekkk (you-knoe-who) duduk di atas ranting pohon. “loooh Fid ada ap- (sambil menengok ke atas pohon) aaaaaaaaaaaa ne-ne-nenek gerrannnnn…… LAAARIIIIIIIIII…..!!!!!” Setelah menyadari hal itu, kami terus berlari hingga masuk desa. Kami senua ngos-nsosan, minum tidak ada, makanan juga tidak ada, yang ada hanyalah dua kantong tanah liat ini.

puisi : tentang siapa diriku ini [happy reading]

TENTANG SIAPA DIRIKU INI

Dalam diam ku bersembunyi
Dalam senyap ku bersemayam
Sabar dan tabah yang terungkap
Bahkan tak cukup penting 
 Ketika ku berteriak mereka tak cukup dengar
ketika mereka berbisik, lantangnya suara cukup sampai
Ketika kumenulis, siapa yang bisa membacanya?
Ketika ku berpuisi, siapa yang bisa mengiranya?
Memangnya siapa aku ini?
Memangnya apa aku ini?
Darimana aku ini?
Dan dimana aku ini?
Ketika tersulut amarahku,
Tak kirakah kau?
Apa yang kau celotehkan itu?
Bukankah itu suaraku?
Bukankah itu gerakan jemariku?
Lantas siapa kau?
Perampas loyalti?
Betapa indahnya kau memuji
Betapa indahnya tulang lidahmu berucap
Apakah kau tahu?
Loyaltiku telah terampas
Penopang semangatku telah meranggas
Wahai pemuji cekatan
Tidakkah kau punya rasa iba?
TIDAK! Karena kalian bukanlah manusia!
Lalu siapa aku ini?
Siapa? Siapa aku ini?
Kau anggap apa aku ini?
Pengemis?Mungkin! 
Bahkan tak seorang pun!
Hanya kebesaran-Nya lah yang tahu sketsa wajahku
Hanya Dia-lah yang mengerti keadaanku
Hanya Dia-lah yang tahu perihnya rasaku
Bahkan tentang siapa aku, 
Aku pun tak tahu

Rabu, 10 Desember 2014