Siapa Kau?
Ini Tanah Liatku!
Karya
: Hafidhotul Ilmillah Parera
“Gaaaaaambar-gambar!
Gaaaambar-gambar!” celetukku seperti orang
penjajah Koran. “Wakakakakaka… kamu kenapa le?”
kata Fani teman sebangkuku. “Kabar gembira untuk kita semua! Seni Budaya,
tugasnya menggambar semua! Buku gambar, sehatkan mata kita, jad…” belum
selesai, teman teman sudah tertawa terbahak-bahak mendengar lirik lago “Mastin”
yang kuubah itu. Aku sangat malu apalagi ketika Guru pengajar SBK mendengarkan
lagu itu di dekat pintu.
“Yaaaa
Assalamualaikum Wr. Wb.” Pak Setyo menyapa murid-muridnya. “Waalaikumussalam
warahmatullahi wabarakaatuh.” Jawab kami. “Qu’uudan” pinta ketua kelas menyuruh
kami duduk. “kelas 9A, coba dibuka buku SBKnya halaman 192!” belum selesai
mencari halaman itu, aku mendengar teman-temanku berbisik-bisik tanda ingin
protes. “Hey Fan, ada apa tuh? Kenapa mereka bisik-bisik kek gitu?” sontak Fani menunjukkan wajahnya yang tanpa ekspresi
itu. “Lihat noh! (sambil menunjukkan buku SBK halaman 192 yang kucari-cari
itu)” “WWHHHAAAAATT…..?” mata dan mulutku menunjukkan tanda tak percaya. Buku
halaman 192 itu berisi materi patung, bukan menggambar. Aku merasa bersalah
karena sok tahu. Mencoba meminta maaf, aku menengok ke arah teman-teman,
daaaann…. “SSSTTT…man teman… peaaaceee.” Aku menunjukkan tanda perdamaian
dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf ‘V’ itu.
Aku bisa membaca perasaan mereka yang belum setengah menit menbentuk kelompok
paduan suara. “Hooooo…. Dasar!” teriak mereka. Pak Setyo yang sibuk mencatatkan
materi di papan ikut kaget. “Hey Hey Hey ada apa toh?” “itu pak Fidho, katanya hari ini mau menggambar, ternyata
patung!” protes Hesty. “Sudah sudah, silahkan dilanjutkan membaca, nanti bapak
jelaskan!” tenang Pak Setyo. “Huuft… untung Pak Setyo.” Kataku. Fani pun
menoleh ke arahku yang ngedumel gak jelas itu.
Pak
Setyo menerangkan panjang lebar tentang patung. Aku mulai menahan tawa ketika
mulut Pak Setyo yang komat kamit diiringi dengan goyangan kumisnya yang lebat
itu. Tanpa aba-aba, Fani (mungkin jengkel) lengsung menepuk punggungku. “issshh ape lah kau nii… asik akuu juga!”
Logatku yang mirip Upin-Ipin itu. “Lagian ngapain kamu cekikikan kek gitu? Emang ada yang lucu? Guru lagi
nerangin materi malah ketawa!!!” Fani, Fani, protes terus dari tadi. “Yeee…
terserah aku dong, week.” Kataku sambil menjulurkan lidah.
~kriiiiiingg~
bel istirahat berbunyi. “Anak-anak, Assalamualaikum, ohya, PRnya kalian
silahkan membuat patung sekreatif mungkin. Dari tanah liat ya! Dikumpulkan hari
Jum’at!” pamit Pak Setyo. “Iya pak.” Jawab Fani. Aku yang baru saja membereskan
bukuku, lansung terduduk di lantai. “Faaaaaannnniiiiiiiiiiii……” teriakku.
Melihat keadaanku, teman-teman langsung mengerubungiku tanpa terkecuali Fani.
“What The Hell Fidd?” jawabnya dengan santai. “What The Hell, What The Hell!
Ngapain kanu iya-in aja kata Pak Setyo? Hah? Eh sekarang hari apa cobak? Ini hari Rabu Faaaannn…. Besok
lusa tuh patung harus dikumpulin.
Emang lu kata Jum’at tuh lama? Lusa
Fan, lusaaaa! Aduh Faaaniiiiiiiii lo
tuh…” “udah diem lo! (membungkam
mulutku)” sergap Fani karena aku yang nyrocos terus.
“kito
mo komono Fon?” tanyaku sambil memukul tangan Fani yang membungkam mulutku. “ke
kantin, lapar.” Jawabnya sambil mulai membuka bungkamannya. “Haaddduuuuuhhh
lega deh. Udah ah aku gak mau tau, kamu pokoknya harus kerja keras buat proyek
ini!” “iya iya… ntar dipikirin.”
Fani
yang sudah kenyang meutuskan untuk kembalike kelas. “Cari kelompok yuk! Eh itu
ada Rosi, Minah, sama Billy. Ajak mereka aja ya?” ajak Fani. “Terserah” jawabku
ketus. “Eh Ros mau sekelompok sama kita ggak?
Kalian juga Minah, Billy?” Tanya Fani. “idiiiiiihh… gak mau ah, males kalau
harus sekelompok sama lu berdua! Ajak
aja tuh si Billy barangkali mau.”
Rosi dan Minah pergi begitu saja. “Dasar sombong!” kataku. “Apa lu kata?” Tanya Rosi. “Hehehe… nggak kok, aku lagi haus makanya ngomong
ngawur.” Aku berbohong. Wakakaka… aku tertawa! “udah udah, eh iya Bil, mau gak
sekelompok sama kita?” “emmm… iya deh gakpapa. Aku ajak Malah sama Tifa ya?”
jawab Billy. “OK!” Aku dan Fani serempak.
Kami
semua setuju untukjadi satu kelompok. Fani, Tifa, Billy, Malah, dan tentunya
aku ikut dalam kelompok ini. “Hey, nanti ya aku tunggu di rumahku… see you
guys!” aku memberikan kesepakatan kepada mereka.
Kesepakatan
kami akhirnya membawa ami untuk membangun proyek yang menyebalkan ini. Berjalan
menyusuri kampung, kemudian menuju hamparan tanah berpadi yang hijau itu. Udara
sejuk, andin sepoi-sepoi seolah mempersilahkan kami untuk berjalan lebih jauh
ke dalam. Kicauan burung yang menurutku membentuk alunan lagu I’m Yours nilik
Json Mars semakin member semangat pada kami. “Banyak bunga-bungaa.. *eh salah
banyak paaadi paaadiii… banyak padi padiii…” sanjungku. Kemudian dilanjutkan
oleh Fani dan Tifa. “I FEEELL FREEE…” “Wkwkwkwkwkwk” kami semua terbahak bahak
mendengar kata kata si Jambul Katulistiwa itu.
“Eh
ada yuyu, ada yuyu! Sini-sini!” teriak Malah. “Haaahh mana mana? Manaaaaa?” aku
sangat heboh saat itu. Hingga gundukan tanah kecil (galengan) sebagai
jalan-jalan diantara sawah-sawah itu terasa luas di kakiku. “adduuuuh kamu ini
gimana sih? Untung aku gak jatuh!” gerutu Tifa. “iya kamu masih belum jatuh,
lah aku sama Billy? Udah jatuh nih! Dasar Fidho aneh!” Fani mulai jengah.
“IYYAAAAA MAAAF!” Teriakku dari kejauhan. “Wuuuihh besar amat. Ayo ambil ayo
ambil!” tanpa basa-basi, aku terjun ke tanah berlumpur dan mencoba mengambil yuyu itu. “Yak yak yak yaaaaakk~
ADDUUUUHH EMAAAAKKK….!” Tanganku terkena cupitan yuyu. Batapa sakitnyaaa~
betapa perihnyaaa tangankuuu~ “hahahahahahaha…” tampak jelas di wajah mereka
ada rasa balas dendam kepadaku. “Ngapain ketawa? GAK LUCU!” kini giliran aku
yang jengkel. “Wakakakakaka.. salah sendiri! Siapa suruh cari yuyu? Yang kita cari tuh tanah lia! Bukan yuyu!” ejek Fani. “Iya kamu ngapain
disitu? (menolongku)” Tanya Billy. “Cari yuyu
lah masak cari pisang!” jawabku ketus tanpa rasa ingin mengucapkan terima kasih
pasa Billy.
“Udah
ah, ayo cari, nanti keburu sore.” Billy yang baik hati itu mulai mencairkan
suasana. Perjalanan pun dimulai lagi. Kami mulai menyusuri sawah demi mencari
tanah liat itu. Tiba-tiba kami bertemu kelompoknya Rosi yang arogan itu. “cieee
ngikut ngikut cieee… dasar! Emang gak bisa ya kalo gak ngikutin? juiihh” Rosi selaku ketua kelompok menyebut kami
sebagai pengikut. Apalagi ketika salah seorang dari mereka mengeek kami sebagai
mata-mata. Aku pun naik pitam. “eh, siapa lu?
emang ini sawah milik kalian doang? Lu
tuh yang ngikut-ngikut!” mereka yang merasa terpojok, segera meninggalkan kami.
Setelah berjalan cukup jauh, Alhamdulillah ketemu. Yaaa walaupun dekat kandang
kuda. “Lah ini ada, yuk gali! Mana kreseknya?” Tanya Malah. “ini. Tapi minta
izin dulu sama yang punya kandang barangkali ini milik dia.” Ajakku. “tumben
bener!” gertak Fani. “Emang gue
pikirin?” balasku sambil menjulurkan lidah. “Pak Paaak boleh minta tanahliat
nya?” tanta Billy dari luar kandang tanpa ingin tahu apa dan siapa yang ada di
dalam kandang. “iyyaaa boleh.” Jawab seorang laki-laki dari dalam kandang
dengan suara yang menurutku ngeri. Sertelah mendapat satu kresek tanah liat,
kami merasakan hal aneh. Saat ingin berpamita pulang, bapak yang kami Tanya
tadi tiba-tiba tidak ada dimana-mana. “Hey hey hey, ngomong-ngomong bapak tadi
mana? Kudanya kok hilang?” malah bertanya dan menakuti kami. “coba kulihat
kedalam.” Keberanian Fani memuncak. Seketika keluar dari kandang, wajah Fani
tampak pucat pasi. Yang dia katakan hanyalah “LAAARRIIII….” “Heeeeeiiii tunggu
aku, heeeeiiii jangan lariiiii.” Aku yang saat itu masih berada di lubang galian
kesulitan naik. Ketika aku sudah naik, aku lari terbirit-birit dengan menenteng
sekantong tanah liat yang perlahan-lahan jatuh ke tanah.
Kami
bertemu di bawah pohon jamblang. “woooooyyy kenapa kalian ninggalin aku? Kalian
jahat!” aku berdecak. “sorry, kita tadi ketakutan, soalnya tadi itu rumahnya
nenek gerandong yang diceritain orang-orang.” Jelas Fani. “hah serius? Tapi gak
ninggalin aku kek gitu juga
kaliiiii…” jawabku. Karena lelah, kami duduk sebentar di bawah pohon. “loh kok
tanah liat nya tinggal separuh kresek?” billy yang teliti itu lagi-lagi
membuatku semakin terpojok. “iya, kemana Fid yang lain?” Malah menimpal.
“pingin tau? Nih lihat bagian bawahnya!” jawabku. “lahkok sobek? Gimana sih, kan kita udah susah-susah cari!” Tifa
mulai jengkel. “Yeeee orang yang cari aku, yang ditinggalin aku, yang bawa juga
aku! Jadi terserah aku dan kreseknya dong!” aku mencoba mengeles. Tifa, Fani,
Billy, dan Malah akhirnya mengaku salah dan minta maaf.
Setelah
istirahat, ternyata ‘pucuk dicinta ulam
pun tiba’ kami yag tadi tidak sengaja beristirahat di bawah pohon, ternyata
disamping bawah pohon itu ada tanah liat yang sangat luas. Kami berdecak kagum
dan saling memuji diri sendiri. Semuanya terjun ke bawah untuk menggali tanah
liat. “gilakk ini tanah litany banyak banget… ayo gali gali gali gali…” ajak
Malah dan semua mengikuti.
Ketika
sedang sibuk mengantongi tanah liat, kelompok singa (julukanku) itu datang
lagi. “eh kalian tuh ngapain sih, tiap kita lewat ada kalian, tiap kita nemu lahan tanah liat ada kalian,
jangan-jangan kalian setan lagi! Hahahahahaha.” Zola, sang asisten Rosi
menyebut kami setan. Dasar mulut tipis. “Eh sorry ya, kalo kita setan, lu itu nerakanya tau gak? Panas banget
kalo deket kalian. Bisa pergi gak? Apa perlu aku siram air comberan biar adem, hah?”
aku merasa kaget dengan Tifa yang bisa marah seperti itu. Biasanya Tifa itu
jarang marah. “whhaaatt neraka?” Rosi mulai gerah. “eh kita juga butuh tanah
liat, bukan hanya lu pada doang!” Cindy
membentak dan mulai turun ke tanah liat diikuti kelompoknya. Di situ kelompokku
dan kelompok Rosi mulai berdebat, saling adu mulut dan lempar lemparan tanah
liat. Kami pun jengah dan jerah sendiri terhadap apa yang kami lakukan.
Tindakan itu sangat konyol dan kekanak-kanakan. Apalagi setelah melihat begitu
banyaknya tanah liat yang terbuang percuma akibat ulah kami. Kelompokku tetap
mempertahankan lahan tanah liat ini sementara kelompoknya Rosi meninggalkan
kami dengan pakaian yang lusuh dan tangan hampa. Berulang ulang kami memunguti
tanah liat yang terbuang itu. Kami sangat marah. “duh syukur mereka udah pergi.
Dasar pngacau semua. Yuk semangat 45 booosss….!!!!!!” Ajak Billy yang terlihat
sangat kelelahan itu. Yap. Sedikit demi sedikit tanah liat itu terkumpul
kembali. Dua kresek tanah liat telah kami dapatkan di akhir sore.
“akhirnyaaa,
udah yuk naik!” kata Tifa. Berbondong-nondong kami naik dan kembali
beristirahat di bawah pohon jamblang tadi. Aku curiga ketika banyak biji
jamblang berhamburan di tanah, saat aku tengok ke atas, ternyataaaaa “te-te-teman-teman!”
bicaraku mulai gagap. “apa sih Fid?” temen-temenku menjawab. “li-li-lihat di
ataaaaaaasssss” aku yang ketakutan langsung lari terbirit birit karena melihat nenekkk
(you-knoe-who) duduk di atas ranting pohon. “loooh Fid ada ap- (sambil menengok
ke atas pohon) aaaaaaaaaaaa ne-ne-nenek gerrannnnn…… LAAARIIIIIIIIII…..!!!!!”
Setelah menyadari hal itu, kami terus berlari hingga masuk desa. Kami senua
ngos-nsosan, minum tidak ada, makanan juga tidak ada, yang ada hanyalah dua
kantong tanah liat ini.